Selasa, 25 April 2017

MAKALAH PERILAKU MENYONTEK, DAMPAK DAN PENANGGULANGANNYA



PERILAKU MENYONTEK, DAMPAK DAN PENANGGULANGANNYA
disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling
dosen pengampu Dr. Euis Kurniati, M.Pd.
MAKALAH





Disusun oleh:
Alif Fauzia Restiadi                  
Ai Kokoy Koyyimah                 
Anis Islamiyah                        
M. Luthfiana                           
Nadia Amira                              



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah penelitian Bimbingan dan Konseling yang berjudul “Perilaku Menyontek, Dampak dan Penanggulangannya dengan tepat waktu.
Dalam penulisan makalah ini kami selaku penulis, tidak sedikit menemukan beberapa hambatan. Namun berkat kerja keras, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
            Sehubungan dengan itu kami mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Ibu Dr. Euis Kurniati, M.Pd.
2.      Teman – teman Prodi Pendidikan Akuntansi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Terimakasih, semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya agar dapat menjadi solusi dari sebagian permasalahan di Universitas Pendidikan Indonesia dan dapat bermanfaat juga bagi pembaca pada umumnya.







Bandung, 17 April 2017


Penulis

DAFTAR ISI







BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Menyontek merupakan hal yang sudah tidak asing lagi di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Menurut Donald D. Carpenter (2006), menyontek sering disebut sebagai perilaku ketidakjujuran akademik (Dody Hartanto, 2012: 10). Menyontek sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu. Saat ini perilaku menyontek tidak hanya terjadi pada jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA saja. Melainkan terjadi pula pada jenjang Perguruan Tinggi dan sekolah Pascasarjana. Baik itu di kota maupun di desa, dan di sekolah maju ataupun sekolah yang biasa-biasa saja.
Setiap individu atau pelajar menginginkan prestasi belajar yang baik, oleh karena itu segala cara pun dilakukan baik itu cara positif maupun negatif. Cara positifnya dapat melalui belajar dengan giat, tekun dan jujur serta percaya diri saat mengerjakan tes akademik. Sedangkan cara negatifnya adalah dengan menyontek. Selain keinginan untuk dapat berprestasi, penyebab lain yang dapat menimbulkan perilaku menyontek ini adalah ingin menghindari kegagalan, tekanan dari teman sebaya maupun orang tua, dan tidak percaya diri ketika mengikuti ujian sehingga pelajar merasa terdesak dan tertekan, yang pada akhirnya mereka terdorong untuk melakukan tindakan menyontek.
Menurut teori perkembangan moral Kohlberg, perilaku menyontek lebih terkait dengan masalah pembentukan Kode Moral (Dody Hartanto, 2012: 5). Menyontek dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Karena menyontek dapat mengikis pribadi jujur dalam diri seorang pelajar, sehingga dapat menghambat seorang pelajar mengoptimalkan kemampuannya dalam belajar dan memperoleh hasil belajar. Perilaku menyontek juga dapat menyebabkan ketidakadilan pada proses penilaian, sehingga itu dapat merugikan orang lain yang bertindak jujur. Oleh karena itu, kami akan membahas mengenai perilaku menyontek dalam makalah ini beserta solusi yang tepat untuk mengatasi masalah perilaku menyontek di kalangan pelajar.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian perilaku menyontek?
2.      Bagaimanakah gejala dan bentuk menyontek itu?
3.      Mengapa menyontek bisa terjadi?
4.      Apa dampak yang terjadi pada orang yang menyontek?
5.      Bagaimana upaya penanggulangan perilaku menyontek di kalangan pelajar?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian perilaku menyontek.
2.      Untuk menjelaskan gejala dan bentuk menyontek.
3.      Untuk mengetahui faktor penyebab seseorang menyontek.
4.      Untuk memaparkan dampak yang terjadi pada orang yang menyontek.
5.      Untuk mengetahui upaya penanggulangan perilaku menyontek di kalangan pelajar dengan melakukan penelitian.











BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perilaku Menyontek

Menyontek atau ngepek menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwadarminta (Dody Hartanto, 2012: 10) adalah mencontoh, meniru, atau mengutip tulisan, pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Pustaka Pheonix, 2009), menyontek berasal dari kata sontek yang berarti melanggar, menocoh, menggocoh yang artinya mengutip tulisan, dan lain sebagainya sebagaimana aslinya, menjiplak. Taylor dan  Carol (Dody Hartanto, 2012) menyontek didefinisikan sebagai mengikuti ujian dengan melalui jalan yang tidak jujur, menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak semestinya, melanggar aturan dalam ujian atau kesepakatan.
Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa menyontek adalah suatu perbuatan atau cara-cara yang tidak jujur, curang, dan menghalalkan segala cara yang dilakukan seseorang untuk mencapai nilai yang terbaik dalam menyelesaikan tugas terutama pada saat ulangan atau ujian. Perilaku menyontek dalam proses akademik merupakan fenomena yang dapat digambarkan secara psikologis, yaitu masalah belajar, perkembangan, dan motivasi.

B.     Gejala dan Bentuk-bentuk Menyontek

1.      Gejala Menyontek
a.       Prokrastinasi dan Self-efficacy
Prokrastinasi menjadi gejala yang paling sering ditemui pada siswa yang menyontek. Hal ini terjadi karena, siswa yang diketahui menunda-nunda pekerjaan memiliki kesiapan yang rendah dalam mengahadapi ujian. Siswa yang menunda-nunda pekerjaan pada akhirnya akan memiliki pengetahuan yang rendah mengenai ujian yang dihadapi dan akan terdorong untuk menyontek.
Self-efficacy ini sangat penting dimiliki oleh seorang siswa, terutama saat mengerjakan ujian. Dengan adanya keyakinan pada kemapuan diri maka hal tersebut akan mempengaruhi kinerja siswa dalam mencapai keberhasilan di dalam ujian. Seorang siswa yang memiliki self-efficacy  yang baik, ketika dalam menghadapi ujian akan memiliki pengharapan akan nilai yang bagus dan hasil yang memuaskan. Sebaliknya, bagi siswa yang mempunyai self-efficacy yang rendah pada saat menghadapi ujian akan merasakan perasaan cemas, menunjukkan sikap yang tidak tenang karena tidak mampu untuk menyelesaikan soal-soal ujian, sehingga siswa tersebut akan merasa putus asa dalam menghadapi rintangan saat ujian dilaksanakan dan akhirnya memutuskan untuk menyontek sebagai alternatif terakhir.
b.      Kecemasan yang Berlebihan
Kecemasan ialah suatu keadaan atau kondisi emosi yang tidak menyenangkan dan biasanya kecemasan yang normal disebut khawatir atau was-was, yaitu rasa takut yang tidak jelas, tetapi terasa sangat kuat (Sarlito Wirawan Sarwono, 2012: 134). Kecemasan yang berlebihan pada siswa memberikan stimulus pada otak untuk tidak dapat bekerja sesuai dengan kemampuanya. Karena keadaan ini, siswa terdorong untuk melakukan perilaku menyontek demi ketenangan dirinya. Studi yang dilakukan oleh Malinowski & Smith (1985, dalam Dody Hartanto, 2012: 7) memaparkan bahwa kecemasan yang berlebihan pada saat tes mengakibatkan seseorang menyontek.
c.       Motivasi Belajar dan Berprestasi
Siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah maka akan menjadi hal yang dapat mendorong siswa untuk menyontek. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi akan berusaha menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang diberikan kepadanya malalui usahanya sendiri dengan sebaik-baiknya. Dan siswa yang cenderung memiliki motivasi belajar yang rendah akan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan dengan apa adanya dan lebih memilih untuk meminta bantuan dari orang lain.
Teori motivasi menjelaskan bahwa menyontek bisa terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi tertekan dan tidak percaya diri, atau apabila dorongan atau harapan untuk berprestasi jauh lebih besar dari pada potensi yang dimiliki. Semakin besar harapan atau prestasi yang diinginkan dan semakin kecil potensi yang dimiliki maka akan menimbulkan hasrat untuk menyontek.


d.      Keterikatan Pada Kelompok
Siswa yang tergabung dalam kelompok akan merasa ada ikatan yang kuat di antara mereka, yang mengharuskan mereka untuk saling tolong menolong dan berbagi, termasuk dalam menyelesaikan tugas atau tes dan ujian yang sedang dilakukan. Keterikatan kelompok ini menimbulkan perasaan tanggung jawab siswa secara bersama-sama untuk saling membantu meskipun melanggar aturan dan merugikan.
Keterikatan pada kelompok ini juga berkaitan dengan konformitas. Konformitas ini juga dapat diartikan sebagai perilaku mengikuti pendapat teman-teman sebaya. Jadi, karena siswa ingin diterima oleh teman-temannya di dalam kelompok maka mereka akan melakukan apa yang diminta kelompok termasuk dalam bekerja sama di saat ujian. Selain itu, siswa juga takut akan diasingkan atau dijauhi oleh teman-temannya kerena dianggap tidak kompak.
e.       Keinginan Akan Nilai Tinggi
Siswa juga didorong oleh keinginan untuk mendapatkan nilai tinggi yang merupakan gejala yang juga dapat menyebabkan perilaku menyontek. Siswa yang menyontek berfikiran bahwa akan lebih mudah menggapai cita-cita di masa yang akan datang jika mereka tidak gagal dalam mengahadapi ujian atau pekerjaan yang diberikan. Pendidikan di Indonesia juga menggunakan nilai sebagai hasil evaluasi belajar siswa yang mengakibatkan masyarakat memandang bahwa prestasi belajar hanya dari pencapaian nilai yang tinggi dan bukan pada prosesnya. Maka untuk menghindari kegagalan dalam ujian tersebut siswa menggunakan cara menyontek agar mendapatkan nilai yang tinggi.
f.       Pikiran Negatif
Pikiran negatif ini seperti ketakutan dikatakan bodoh dan dijauhi oleh teman-teman, ketakutan dimarahi oleh orang tua dan guru, dan pemikiran negatif lainnya. Apabila dia mendapat nilai di bawah standar rata-rata maka, dia akan mendapatkan cap atau label sebagai anak bodoh dan dijauhi oleh teman-temannya sehingga timbulah gejala menyontek pada siswa tersebut.
g.      Indikasi munculnya perilaku menyontek juga dapat diawali dengan adanya hubungan yang tidak baik antara siswa dengan orang tua.
Orang tua yang memberikan dorongan dan kepercayaan kepada siswa akan dapat meminimalisir perilaku menyontek. Hal ini terjadi karena tidak adanya rasa tertekan dan rasa takut siswa terhadap orang tuanya.
h.      Harga Diri dan Kendali Diri
Siswa dengan harga diri yang tinggi dan berlebihan juga memilih untuk melakukan perbuatan menyontek. Menyontek ini bertujuan untuk menjaga agar harga dirinya tetap terjaga dengan mendapatkan nilai yang tinggi meskipun dilakukan dengan cara yang salah. Selain itu, siswa yang menyontek juga menunjukkan adanya gejala pengendalian diri yang rendah. Seseorang yang memiliki pengendalian diri yang baik akan memperkecil kemungkinan untuk menyontek.
i.        Perilaku Impulsive dan Cari Perhatian
Di dalam memahami perilaku menyontek sering muncul dua buah pendekatan, yaitu pendekatan impulsif dan pendekatan sensasi. Siswa yang diakatakan impulsive jika ia membuat keputusan lebih banyak didasarkan pada dorongan dibandingkan memikirkan alasan. Sedangkan siswa yang memiliki kebutuhan akan sensasi yang berlebihan ketika siswa sedang tumbuh dan berkembang ditunjukkan dengan melakukan perbuatan menyontek karena tindakan tersebut dianggap bersifat alami sehingga harus diikuti untuk dapat terus bertahan hidup.
2.      Bentuk – Bentuk Menyontek
Hetherington dan Feldman (Dody Hartanto, 2012: 17) mencoba mengelompokkan empat bentuk menyontek, yaitu: individualistic-opportunistic, individualistic-planned, social-active, dan social-passive. Berikut ini penjelasan mengenai macam-macam bentuk perilaku menyontek, yaitu:
a.       Individualistic-opportunistic, dapat dimaknai sebagai perilaku dimana siswa mengganti suatu jawaban ketika ujian atau tes sedang berlangsung dengan menggunakan catatan ketika guru keluar dari kelas.
b.      Individualistic-planned, dapat diidentifikasi sebagai menggunakan catatan ketika tes atau ujian berlangsung, atau membawa jawaban yang telah lengkap atau dipersiapkan dengan menulisnya terlebih dahulu sebelum berlangsungnya ujian.
c.       Social-active, adalah perilaku menyontek dimana siswa menyalin atau melihat atau meminta jawaban dari orang lain.
d.      Social-passive, adalah mengizinkan seseorang melihat atau menyalin jawabannya.
Studi empiris yang dilakukan beberapa ahli menunjukkan beberapa bentuk perilaku menyontek pada siswa, seperti yang terlihat pada Tabel 1.1 (Dody Hartanto, 2012: 17).
Tabel 1.1 Bentuk Menyontek
Usia
Peneliti
Tahun Penelitian
Bentuk Menyontek
TK-Kelas 8
Brandes
1986
1)      Menyalin pekerjaan dari orang lain pada saat tes
2)      Melakukan kegiatan plagiat
Syer & Shore
2001
1)      Menyalin secara utuh data dari orang lain
Sekolah Menengah
Brandes
1986
1)      Menyalin hasil pekerjaan orang lain pada saat tes dilakukan
2)      Menggunakan catatan kecil pada saat tes atau ujian dilaksanakan
Perguruan Tinggi









Baird








1980








1)      Menyontek pada saat dilaksanakan kuis
2)      Menyontek pada saat tes atau ujian sedang berlangsung
3)      Mengambil keuntungan pada saat dilakukan tes (lemahnya pengawasan)
4)      Memberikan izin kepada orang lain untuk menyalin atau melihat hasil pekerjaan
5)      Menyalin pekerjaan orang lain pada saat tes dilakukan
6)      Plagiarism
Dawkins Robinson, Amburgey, Swank,& Faulkner

2004
1)      Menyalin dari internet
2)      Menyalin pekerjaan siswa lain pada saat ujian sedang berlangsung
3)      Membuat jawaban untuk dapat disalin oleh siswa lain
4)      Menerima jawaban dari orang lain yang telah menyelesaikan ujian
5)      Melakukan kolaborasi pada ujian take-home (padahal hal tersebut dilarang)
Bennett
2005
1)      Plagiarizing, meliputi :
2)      Menyalin sebagian kecil kalimat
3)      Menyalin sebagian besar kalimat
4)      Menyalin seluruh paragraf
5)      Menyalin beberapa paragraf
6)      Mengotak-atik referensi (Making up references)
7)      Melakukan kerja sama ketika hal tersebut tidak diizinkan

C.    Faktor Penyebab Timbulnya Perilaku Menyontek

Menurut Brown dan Choong (2003), faktor-faktor perilaku menyontek ada empat, yaitu:
1.      Ingin mendapatkan nilai dengan cara yang mudah
Faktor pertama dari perilaku menyontek ini yaitu dimana siswa ingin mendapatkan nilai yang baik tanpa usaha yang keras, sehingga melakukan perilaku ini, bahkan dianggap tidak merugikan orang lain.
2.      Lingkungan pendidikan
Pengaruh lingkungan di sekolah atau institusi pendidikan lain karena tekanan teman sebaya, budaya sekolah, budaya bersenang-senang, dan rendahnya resiko untuk ditangkap atau dihukum jika melakukan perilaku menyontek.
3.      Kesulitan yang dihadapi
Kesulitan yang dihadapi siswa dalam bentuk keterbatasan waktu yang mereka miliki untuk mengerjakan tugas dan pada kesulitan yang ada pada materi pelajaran. Ini merupakan kesulitan yang benar-benar dihadapi siswa.
4.      Kurangnya kualitas pendidik
Kualitas pendidik juga merupakan faktor penyumbang terjadinya perilaku menyontek. Siswa melihat tugas, bahan yang tidak relevan dan sikap guru yang acuh tak acuh, yang menjadi faktor timbulnya perilaku menyontek.
Faktor-faktor umum yang menyebabkan terjadinya perilaku menyontek menurut Hutton dan Donald P. French (Dody Hartanto, 2012, hlm. 31-32) adalah :
1.      Adanya kemalasan pada diri seseorang
2.      Karena merasa cemas.
3.      Melihat perilaku menyontek bukan merupakan hal yang yang salah dan merugikan.
4.      Memiliki keyakinan bahwa perilakunya tidak akan diketahui.
Faktor menyontek dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dalam perilaku menyontek adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang apa yang dimaksud dengan menyontek atau plagiarism, rendahnya self-efficacy, dan status ekonomi sosial. Faktor eksternal yang turut menyumbang perilaku menyontek adalah tekanan dari teman sebaya, tekanan dari orang tua, peraturan sekolah yang tidak jelas dan sikap guru yang kurang tegas.

D.    Dampak Perilaku Menyontek

1.      Perilaku menyontek dapat mendidik siswa untuk berbohong
Menyontek merupakan termasuk perilaku berbohong baik pada diri sendiri maupun orang lain. Siswa yang sudah terbiasa menyontek akan terbiasa untuk berbohong tidak hanya ketika ujian namun juga dapat terbawa-bawa dalam kehidupan sehari-hari. Menyontek dapat mengikis pribadi jujur dalam diri seorang pelajar, dapat menghambat seorang pelajar mengoptimalkan kemampuannya dalam belajar dan memperoleh hasil belajar.
2.      Siswa tidak menghargai proses belajar
Siswa yang hanya mengandalkan menyontek ketika ujian, di dalam belajar siswa tersebut hanya akan bermain-main saja karena bagi mereka yang penting adalah hasil ujian dan proses belajar tidak penting.
3.      Melahirkan koruptor, penipu, plagiator, dan penjahat yang menghalalkan segala cara
Karena menyontek dapat mengikis kejujuran dan mendidik siswa untuk berbohong serta hal tersebut sudah tertanam di dalan diri siswa, maka akan melahirkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak baik, seperti koruptor, penipu, plagiator, dan penjahat yang menghalalkan segala cara.
4.      Tidak mau berusaha sendiri dan selalu mengandalkan orang lain
Ketergantungan adalah suatu keadaan di mana seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya menggantungkan bantuan pihak lain (Hartono dan Boy Soedarmadji, 2013:88). Di dalam belajar, masalah ini dapat menimbulkan penurunan kemampuan peserta didik atau mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugasnya, sehingga usaha belajarnya menjadi rendah.
Siswa yang menyontek biasanya menggantungkan dirinya kepada orang lain, hal ini dapat mengakibatkan siswa tidak mau berusaha sendiri dan selalu mengandalkan orang lain dalam berbagai hal.
5.      Malas belajar, malas berpikir dan merenung, malas membaca dan tidak suka meneliti
Karena setiap ujian sudah terbiasa tidak belajar sebelum menempuh ujian, maka lama-kelamaan akan memunculkan perilaku malas belajar, malas berpikir, malas membaca dan tidak suka meneliti.
6.      Membodohi diri sendiri
Menyontek termasuk perilaku yang dapat membodohkan diri sendiri. Seorang siswa yang suka menyontek tidak akan memahami materi pelajaran dan menyontek juga berarti berbohong pada diri sendiri, hal tersebut akan membuat siswa membodohi dirinya sendiri.
7.      Mempunyai kepercayaan diri yang rendah
Siswa yang menyontek ketika ujian biasanya tidak memiliki rasa percaya diri ketika menjawab soal-soal ujian sehingga lebih memilih untuk menyontek. Karena terus-menerus menyontek maka siswa tersebut semakin merasa bahwa dia tidak percaya diri di dalam ujian maupun tes yang lainnya.

E.     Upaya Penanggulangan Perilaku Menyontek di Kalangan Pelajar

1.      Upaya dari Diri Sendiri
a.       Bangkitkan Rasa Percaya Diri (Self-efficacy)
Dengan membangkitkan rasa percaya diri, seorang siswa akan mampu untuk mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Siswa yang menyontek biasanya akan terbiasa untuk bergantung pada orang lain. Oleh karena itu, untuk mengurangi kebiasaan menyontek, seorang siswa harus dapat meningkatkan rasa percaya dirinya. Jika siswa sudah memiliki rasa percaya diri yang tinggi maka dia akan percaya akan kemampuan dirinya ketika menjawab soal-soal ujian. Seorang siswa yang memiliki self-efficacy  yang baik, ketika dalam menghadapi ujian akan memiliki pengharapan akan nilai yang bagus dan hasil yang memuaskan dengan mempersiapkan diri sebelum dilakukannya ujian.
b.      Arahkan Self-consept ke Arah yang Lebih Proporsional
Jika seorang siswa sudah memiliki konsep diri yang positif, maka dia akan dapat mengontrol dirinya agar tidak menyontek ketika ujian maupun tes lainnya. Hubungan antara tingginya konsep diri yang dimiliki seorang siswa dengan intensi siswa menyontek sudah dibuktikan oleh Uni Setyani (2007:80) bahwa pada siswa di SMA Negeri 2 Semarang, sebanyak 21,5% siswa menyontek karena konsep diri yang rendah.
Pudjijogjanti (1985:26; dalam Uni Setyani, 2007:75) menyatakan bahwa siswa memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam memahami dan melaksanakan tugas-tugas sekolah. Bentuk pendekatan yang dilakukan siswa untuk memahami dan melaksanakan tugas dipengaruhi oleh pandangan siswa pada diri dan lingkungannya, yang berarti konsep diri berperan penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas belajar siswa dalam usahanya meraih prestasi.
c.       Biasakan Berpikir Lebih Realistis dan Tidak Ambisius
Di dalam belajar maupun ujian hendaknya seorang siswa tidak hanya mementingkan tujuan akan nilai yang tinggi dan prestasi yang baik saja. Di dalam belajar yang diharapkan terhadap siswa adalah mampu menguasai apa yang di pelajari bukan hanya berorientasi pada hasil akhirnya.
1)      Upaya Orang Tua
Menurut Hurlock (1999:132; dalam Uni Setyani, 2007:76) pandangan orang tua tentang kemampuan dan prestasi anak akan mempengaruhi cara pandang anak terhadap dirinya. Orang tua yang terlalu mengaharapkan anaknya mendapatkan prestasi yang baik akan mempengaruhi anak untuk memperoleh nilai yang baik bagaimanpun caranya, termasuk menyontek.
a)     Orang tua hendaknya mengenali potensi dan kemampuan anaknya. Jika anak kemampuan yang rendah jangan terlalu menuntut anak untuk mendapatkan nilai tinggi.
b)     Orang tua hendaknya juga senantiasa menciptakan lingkungan psikologis yang mampu mempertahankan terwujudnya konsep diri positif dengan memberi penghargaan terhadap prestasi yang sudah diraih anak.
c)     Orang tua diharapkan agar tidak mematok atau memberi target nilai yang harus didapatkan oleh anak. Orang tua hendaknya memberikan perhatian dan mengontrol proses belajar anak, memberi pengertian dan motivasi pada anak tentang pentingnya proses belajar sehingga anak tidak berorientasi pada hasil atau nilai sehingga dapat meminimalisir intensi menyontek.
d)    Orang tua hendaknya juga tidak menggunakan pola asuh yang otoriter dalam mendidik anak sehingga anak percaya diri di dalam bergaul dan bersosialisasi.
2)      Upaya Guru
Guru hendaknya meningkatkan pengawasan dan memberikan hukuman tegas pada siswa yang menyontek dan meyikapinya dengan serius sehingga siswa tidak berani mengulangi perbuatannya. Hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru untuk mengurangi intensitas menyontek adalah sebagai berikut:
a)      Membentuk hubungan saling menghargai antara guru dengan siswa, serta menolong siswa bertindak jujur dan tanggung jawab.
b)      Membuat dan mendukung peraturan sehubungan dengan menyontek, karena siswa memahami peraturan dari tindakan guru.
c)      Mengembangkan kebiasaan dan keterampilan belajar yang baik dan menolong siswa merencanakan, melaksanakan cara belajar siswa.
d)     Tidak membiarkan siswa menyontek jika hal tersebut terjadi dalam kelas dengan teguran atau cara lain yang pantas dengan perbuatannya, sebagai penerapan disiplin.
e)      Bertanggung jawab merefleksikan “kebenaran dan kejujuran”, yaitu guru menjadikan diri sebagai teladan siswa dalam menanamkan nilai kebenaran dan kejujuran.
f)       Menggunakan tes subjektif sebagai dasar proses ulangan dan ujian.
g)      Menekankan “belajar” lebih sekedar mendapat nilai, yaitu membantu siswa memahami arti belajar sebagai suatu tujuan mereka sekolah dan nilai akan berarti bila murni dengan kemampuan siswa sendiri.
3)      Upaya oleh Sekolah
Berkaitan dengan pelaksanaan ujian, sekolah diharapkan membuat sistem ujian dan menggunakan bentuk soal yang meminimalisir intensi menyontek. Sistem ujian diharapkan memperkecil kemungkinan terwujudnya perilaku menyontek, misalnya dengan mengatur jarak antar siswa dan membuat soal ujian yang berbeda-beda antar kelas. Sejak siswa mulai masuk, sekolah diharapkan menanamkan pemahaman pada siswa bahwa menyontek merupakan suatu bentuk ketidakjujuran yang dapat berdampak pada aspek kehidupan lain.
McCabe dan Pavela (1997; Linda Klebe Trevino, 2001; dalam Dody Hartanto, 2012:46) mengemukakan 10 prinsip yang harus dilakukan dalam menangani masalah menyontek, yaitu sebagai berikut:
a)      Memberikan penegasan atau penguatan tentang pentingnya integritas akademik,
b)      Mendorong kecintaan belajar,
c)      Memperlakukan siswa sebagai diri mereka sendri,
d)     Membantu terciptanya perkembangan lingkungan yang saling percaya,
e)      Mendorong tanggung jawab siswa dalam meraih integritas akademik,
f)       Melakukan klarifikasi atas harapan siswa,
g)      Membuat atau menciptakan bentuk tes yang adil dan relevan,
h)      Mengurangi kemungkinan terjadinya ketidakjujuran akademik,
i)        Melawan ketidakjujuran akademik yang terjadi, dan
j)        Membantu mendefinisikan dan mendukung terciptanya standar integritas akademik.
k)      Menyontek juga berkaitan dengan pola pikir siswa terhadap perilaku menyontek.

F.     Guru BK atau Konselor

Untuk menanggulangi perilaku menyontek, guru BK dapat menggunakan Konseling Kognitif Perilaku (KKP) dan konseling REBT berbasis kelompok.
1.      Konseling Kognitif Prilaku (KKP)
Konseling kognitif perilaku digunakan untuk menangani masalah kecemasan pada siswa. Salah satunya kecemasan yang akhirnya menyebabkan siswa menyontek. Konseling kognitif perilaku ini berkaitan dengan kognitif (pemikiran) dan perilaku seseorang dalam kehidupan. Filosofi yang digunakan dalam Konseling Kognitif Perilaku adalah perasaan dan perilaku menusia ditentukan oleh bagaimana ia memberi arti (makna) pada setiap kejadian, masalah, dan situasi yang dihadapi (Dody Hartanto, 2012:49). Jadi perilaku manusia dikaitkan dengan bagaimana manusia itu memaknai setiap kejadian di dalam hidupnya.
Menurut Oemaryadi (Mubyar, 2009; dalam Dody Hartanto, 2012:50), teori KKP didasarkan pada pola pembentukan manusia melalui progran Stimulus-Kognisi-Respons (SKR) yang saling terkait dan membentuk jaringan dalam otak, dimana proses kognitif menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia merasa, berpikir, dan bertindak.
Tujuan dari Konseling Kognitif Perilaku ini adalah mengoreksi self-belief yang salah atau menyimpang yang mengakibatkan cara berpikir yang tidak rasional yang selanjutnya akan menimbulkan gangguan psikologis. Menurut prespektif keyakinan diri, Konseling Kognitif Perilaku betujuan untuk meningkatkan efikasi diri (self-efficacy) individu (Kalodner, 1995; Ilfiandra, 2008; dalam Dody Hartanto, 2012:51). Berdasarkan teori efikasi diri, individu memiliki harapan untuk berhasil dalam menampilkan perilaku yang khusus dan harapan yang dimiliki itu dapat berpengaruh pada pengambilan keputusan untuk mencoba perilaku baru dan mempertahankan perubahan perilaku.
Berbagai teknik yang digunakan dalam Konseling Kognitif Prilaku oleh Bond (2004; dalam Dody Hartanto, 2012:56) dibagi kedalam tiga kategori, yaitu (a) restrukturisasi kognitif, yang menckup terapi emosi rasional, pengajaran diri, dan terapi kognitif, (b) terapi keterampilan dalam menangani situasi yang meliputi pemodelan tertutup, latihan pengolahan kecemasan, dan suntikan stres, serta (c) terapi pemecahan masalah yang berisikan pemecahan masalah perilaku dan kepercayaan diri.
McLeod (2006; Mubyar, 2009; dalam Dody Hartanto, 2012:57) menyebutkan bahwa beberapa teknik yang dapat digunakan dalam Konseling Kognitif Perilaku, yaitu:
a.       Menata keyakinan yang irasional,
b.      bibliotherapy (terapi pustaka), yaitu menerima kondisi emosi internal sebagai sesuatu yang menarik bukannya sesuatu yang menakutkan,
c.       mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri,
d.      mencoba penggunaan berbagai pernyataan diri,
e.       mengukur perasaan,
f.       menghentikan pikiran,
g.      desensitisasi sistematis,
h.      pelatihan keterampilan sosial,
i.        assertiveness skill training atau pelatihan keterampilan agar dapat bertindak dengan tegas,
j.        pemberian tugas rumah, dan
k.      in vivo exposure, yaitu mengatasi situasi yang menyebabkan masalah dengan memasuki situasi tersebut.
Penggunaan KKP untuk mengurangi intensitas menyontek sudah dibuktikan oleh Mubarok (2009; dalam Dody Hartanto, 2012: 34) bahwa menyontek di sekolah dasar memiliki intensitas sedang dan rendah. Penelitian yang lain juga menemukan intensitas menyontek di sekolah menengah pertama yang berada pada kategori sedang dan tinggi.
2.      Konseling REBT Berbasis Kelompok
REBT (Rasional Emotive Behavior Therapy) dulu dikenal sebagai RET (Rational Emotive Therapy). Pendekatan RET lebih ditekankan pada kognisi, perilaku dan aksi yang lebih mengutamakan berpikir, menilai, menentukan, menganalisis dan melakukan sesuatu. George & Crintiani (1990; dalam Dody Hartanto dan Boy Soedarmadji, 2013:131) menyatakan bahwa pendekatan RET ini menekankan pada proses berpikir konseling yang dihubungkan dengan perilaku serta kesulitan psikologis dan emosional.
Berkenaan dengan teknik REBT, menurut Gladding (2004; dalam Dody Hartanto, 2012:60) dapat menggunakan bebagai macam teknik. Dua yang utama adalah mengajari (teaching) dan menantang (disputing). Mengajari menyangkut memberikan pemahaman tentang ide dasar REBT dan memahami bahwa pikiran bertautan dengan emosi dan perilaku. Sedangkan teknik menantang terbagi menjadi tiga, yaitu menantang pemikiran atau keyakina, tantang imajiner, dan tantangan perilaku.
REBT tidak hanya betujuan menghilangkan simtom, tetapi juga membantu orang memeriksa dan mengubah beberapa nilai dasar mereka terutama yang menimbulakan gangguan (Dody Hartanto, 2012:67). Hal ini berkaitan dengan menghilangkan penilaian yang salah oleh siswa terhadap perilaku menyontek.

G.    Solusi dan Peran Guru

Guru sebagai orang terdekat dalam pembelajaran disekolah, memiliki tanggung jawab untuk membimbing siswanya dalam pelaksanaan ujian dan ulangan dengan memberikan penguatan dan peneguhan terhadap sikap dan perilaku mereka yang positif, dimana siswa dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tertib.
Dalam Agustin, M. (2011) bentuk konkret dari peringatan BK dan Guru terhadap siswa yang menyontek yaitu:
1.      Teguran verbal, yaitu mendekati siswa tertentu dan berbicara dengan suara pelan sehingga tidak terdengar oleh teman sekelasnya.
2.      Mengambil suatu hal yang digemari atau disukai siswa, seperti mengikuti kegiatan tertentu atau diminta menyerahkan benda yang sedang dipegangnya.
3.      Mengisolasi siswa dari teman-temannya untuk waktu tidak terlalu lama, seperti memindahkannya di ruang kosong atau tempat yang jarang dilalui orang.
4.      Ketika tindakan siswa susah keterlaluan dalam menyontek maka perlu ada bimbingan oleh BK.

H.    Hasil Penelitian Tentang Menyontek

Untuk mengetahui penyebab, dampak positif, dan efek dari pengangguran yang dirasakan oleh pelajar dan mahasiswa, kami membauat dan menyebarkan kuisioner dengan format sebagai berikut :

 






















Dari kuisioner yang kami sebar pada pelajar SMP, SMA, Perguruan Tinggi dan responden lainnya ada 73 responden yang mengisi kuisioner ini. 82,2 persen responden adalah mahasiswa, 11 persen adalah siswa SMA, sisanya 6,8 persen adalah siswa SMP dan lainnya. Jadi data responden didominasi oleh kalangan mahasiswa.
Responden yang mengisi kuisioner kami terdiri dari 71,2 persen perempuan dan 28,8 persen laki – laki.
Dari data diatas, ternyata didapat hasil bahwa 90,4% dari 73 pelajar (SMP dan SMA) kalangan mahasiswa pernah menyontek, sisanya 9,6 persen tidak pernah menyontek dan kurang yakin pernah penyontek.
Dari data diatas pertanyaan, mengapa anda menyontek alasan yang diungkapkan responden adalah
1.      Karena terdesak dan terpaksa
2.      Tidak yakin dengan jawaban sendiri
3.      Ikut – ikutan dengan teman
4.      Soal ujian yang susah
5.      Menyontek karena merasa jawabannya keliru
6.      Menyontek karena lupa apa yang sudah dipelajari
7.      Menyontek karena belum belajar
8.      Bingung
9.      Menyontek karena malas berpikir
10.  Menyontek supaya dapat nilai yang bagus
Seberapa sering anda menyontek ? Jawaban dari responden ini mengatakan 79,5 persen mengatakan jarang menyontek, 11 persen mengatakan sering, sekitar 5 persen tidak pernah menyintek, sisanya selalu menyontek.
 







Menurut jawaban dari responden, dampak positif dan negatif dari mencontek diantaranya dapat kami rangkum sebagai berikut :
1.      Positif dapet jawaban yang bener, soalnya jadi terisi, mengetahui jawaban yang sebelumnya kita tidak ketahui, positifnya nilai besar dan lulus tepat waktu
2.      Melatih kelincahan mata, tahu mana teman yang baik bisa diajak kerja sama
mempererat hubungan dengan teman dan melatih kekompakan kelas
3.      Tidak perlu berpikir dan mempersingkat waktu pengerjaan
4.      Tidak ada dampak positif dari mencontek melainkan hanya menimbulkan dampak negatif yg membuat pelajar menjadi pemalas dan berbuat curang dan mendidik menjadi seorang pembohong
5.      Hanya cari aman aja walaupun sebenarnya tidak baik
Dampak Negatif :
1.      Takut jadi kebiasaan /ketagihan untuk mencontek
2.      Merusak kepercayaan diri dan benih ketidakjujuran, membuat seseorang ketergantungan, kita tidak akan tahu apa apa, siswa menjadi tidak mandiri, bergantung kepada orang lain, malas terlihat bodoh dan tidak dapat mengasah diri, tidak percaya terhadap kemampuan diri sendiri.
3.      Bisa membuat perasaan menyesal seumur hidup bagi beberapa orang, dan mungkin pemicu kebohongan dan kecurangan-kecurangan dikehidupan kedepannya tidak  bisa jadi pemimpin yang baik karena kejujuran yang kurang, memanjakan otak sehingga otak tumpul tidak diasah, tidak berkembang dan akhirnya susah berfikir kritis, menipu diri sendiri dan penilai(guru), mungkin berdosa, mendzolimi diri sendiri, tidak diridhai Allah bisa jadi (wallahualam)
4.      Jika terbiasa mencontek maka akan menimbulkan bibit bibit koruptor
5.      Terkena hukuman guru, kalau ketauan nilainya turun, nilai yang didapat bukan cerminan kemampuan pribadi

Efek yang dirasakan responden setelah menyontek adalah, 41, 1 persen merasa menyesal, 19, 2 persen merasa biasa saja, 16,4 persen merasa gelisah, 12,3 persen merasa cemas, sisanya persen merasa ingin menyontek lagi.
Menurut kami, dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perilaku menyontek masih menjamur dan menjadi penyakit yang akut di kalangan pelajar, terlihat dari 73 responden kuisioner bahwa sejak pendidikan dasar sampai perguruan tinggi mencontek tidak dapat dipisahkan dari yang namanya ujian. Penyebabnya banyak, namun intinya adalah ketidaksiapan siswa untuk ujian, terdesak, tidak yakin dengan jawaban sendiri dan malas berpikir. Perilaku menyontek memang lebih banyak dampak negatifnya dari pada dampak positifnya. Dan parahnya lagi, dari hasil kuisioner pada pertanyaan terakhir, cukup banyak yang menganggap menyontek hal yang sudah biasa. Tentu ini merupakan hal yang gawat sebab, jika generasi penerus bangsa kita adalah ahli ahli menyontek bagaimana negara Indonesia bisa maju, karena menyontek adalah salah satu  pangkal dari kebohongan atau ketidakjujuran.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Menyontek merupakan sebuah kecurangan yang dilakukan oleh seseorang dalam mengerjakan tugas dan ujian, baik itu di sekolah, di perguruan tinggi, maupun di tempat yang lainnya dan juga merupakan suatu penipuan atau melakukan perbuatan tidak jujur. Menyontek mempunyai gejala-gejala dan bentuk yang bermacam-macam. Faktor penyebab perilaku menyontek terbagi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Menyontek membawa dampak negatif, baik kepada individu maupun bagi masyarakat. Perbuatan menyontek memberikan dampak yang buruk bagi siswa, karena dengan menyontek siswa cenderung tidak percaya diri dan hanya mengandalkan orang lain. Selain itu, kebiasaan menyontek juga menjadikan seorang siswa itu menjadi pribadi yang tidak jujur. Upaya penanggulangan perilaku menyontek dapat dilakukan dalam berbagai segi, baik itu dari diri sendiri, orang tua, guru, sekolah, dan guru BK atau konselor. Adapun upaya penanggulangan perilaku menyontek oleh konselor dapat dilakukan dengan menggunakan Konseling Kognitif Perilaku (KKP) dan konseling REBT berbasis kelompok.

B.     Saran

Saran terkait presentasi tentang perilaku menyontek ini adalah: Siswa, orang tua, guru dan konselor harus bekerja sama untuk menghindari dan menanggulangi perilaku menyontek.
Adapun saran untuk perbaikan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.      Diharapkan pendidik dapat memahami perkembangan peserta didik dalam proses pendidikan.
2.      Diharapkan pembaca dapat memanfaatkan makalah ini sebaik-baiknya.
3.      Perlunya pemahaman mengenai ilmu psikologi pendidikan secara luas agar memahami kepribadian peserta didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, M. (2011). Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hartanto, Dody. (2012). Bimbingan dan Konseling Menyontek: Mengungkap Akar Masalah dan Solusinya. Jakarta Barat: Indeks Jakarta.
Hartono & Boy Soedarmadji. (2013). Psikologi Konseling. Jakarta: Kencana.
Pustaka Pheonix. (2009). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Baru. Jakarta: PT. Media Pustaka Pheonix.c5
Sarwono, Sarlito W. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.
Setyani, Uni. (2007). Hubungan Antara Konsep Diri dengan Intensi Menyontek pada Siswa SMA Negeri 2 Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persalinan Caesarku

🌷🌷🌷 Assalamualaikum wr wb.. ini adalah pengalaman persalinanku, semoga dapat diambil hikmahnya😇 Minggu 31 Juli jam 3 Pagi Jam 3 pagi kel...